Thursday

Habbatussauda (Black Carraway)

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, RasulullaH ShallallaHu 'alaiHi wa sallam bersabda,

"Hendaknya kalian mengkonsumsi habbatussauda. Karena di dalamnya mengandung obat untuk segala jenis penyakit, kecuali kematian" (HR. al Bukhary no. 5687 dan lainnya)

Berkata Imam Ibnu Hajar al Asqalany rahimahullaH (wafat 852 H) dalam Fathul Baary menjelaskan sabda Nabi di atas,

"Segala penyakit, perkiraan maknanya, bisa sembuh dengannya karena ia bermanfaat bagi penyakit-penyakit dingin"

Berkata Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimahullaH (wafat 751 H),

"Habbatussauda memang berkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin"
(Metode Pengobatan Nabi, hal. 365)

Sebagaimana penjelasan kedua ulama tersebut di atas, habbatussauda bermanfaat untuk penyakit-penyakit dengan tipe dingin yang mana dalam perspektif TCM (Traditional Chinese Medicine) disebut sebagai sindrom dingin ekses (yin shi) dan sindrom panas defisien (yang xu). Secara umum gejala sindrom dingin ini ditandai dengan lidah berwarna putih pucat dan nadi lemah.

Di Indonesia, habbatussauda dikenal dengan nama biji hitam atau jinten hitam, berasal dari tanaman yang bergenus Nigella dan berspecies Nigella Sativa. Tanaman ini menyebar dari Afrika Utara, Eropa Selatan hingga Asia Selatan. Secara marfologis merupakan jenis tanaman bunga, tumbuh setinggi 20-50 cm, berbatang tegak, berkayu dan berbentuk bulat menusuk. Bunganya berbentuk beraturan, berwarna biru pucat atau putih, menarik dengan 5 sampai 10 mahkota bunga. Buahnya keras seperti buah buni dan bijinya berwarna hitam pekat.

Habbatussauda mengandung minyak asiri, minyak lemak, d-limonena, simena, glukosida, saponin, zat pahit, jigelin, nigellone dan timoquinone. Kandungan nutrisinya terdiri dari 21% protein, 38% karbohidrat, 35% minyak nabati, vitamin (A, B, B2, dan C), kalsium, potassium, zat besi, Zn, magnesium dan selenium.

Menurut Nurkosim (2009), alumni Farmasi ITB tahun 1991, habbatussauda mempunyai efek farmakologis sebagai berikut : analgesik (pereda nyeri), anti depresan (penenang), anti tusif (menekan refleks batuk), anti asma, anti inflamasi, aprodisiak, anti hipertensi, anti diare, hepapo-protector, anti diabetes, vasodilator perifer (pelebar pembuluh darah tepi), anti infeksi, anti disentri, anti toksin, anti rematik, anti piretik, anti kanker dan sebagainya.

Khasiat farmakologis yang begitu banyak dari habbatussauda tentunya tidak didapat begitu saja, namun telah melalui penelitian yang cukup panjang dan bertahun-tahun, diantaranya :

1. Minyak essensial dari habbatussauda menunjukan anti bakteri melawan bakteri subtilis, shigella dysentriae, sh. boydi (Bhargava Chaucan, 1968)
2. Minyak esensial dari habbatussauda dapat menunjukan aktifitas anthelmintic melawan cacing tanah dan cacing pita (Agarwal et. al., 1979)
3. Ekstrak biji-bijian dari habbatussauda menunjukkan kemampuan dalam mencegah gangguan pada gigi (Namba, et. al., 1985)
4. Peningkatan volume susu yang diobservasi pada kambing setelah mengkonsumsi habbatussauda sebanyak 100 mg/kg berat selama 10 hari meningkatkan air susu (Vihan dan Panwar, 1987)
5. Reduksi 33% pada tumor telah diobservasi pada eksperimen jaringan lembut sarcoma yang diinduksi oleh menthylcholanthrene setelah penyembuhan dengan ekstrak habbatussauda pada dosis 100/mg/kg selama 30 hari (Salomi, et. al. 1991)
6. Kandungan aktif biji habbatussauda mengandung asam lemak yang setelah dikaji dapat berfungsi sebagai anti tumor (Salomi, et. al. 1992)
7. Minyak habbatussauda memiliki potensi terapis dalam penyembuhan diare (Ferdous, et. al. 1992)
8. Persiapan pengobatan herbal dengan salah satu unsurnya habbatussauda menunjukan hypoglycaremic effect yang jelas pada percobaan hewan (Esaknder et. al. 1995)
9. Aplikasi pada lotion yang mengandung habbatussauda menunjukkan kemampuan penyembuhan luka setelah diuji-coba pada luka di tubuh kambing, domba dan anak sapi (Ahmed, et. al. 1995)
10. Minyak volatile dari habbatussauda memiliki efek anti spasmoduc (Aquel, 1999)
11. Pengaruh preventif dari minyak habbatussauda melawan serangan cytomegalovirus yang membesarkan sel-sel pada tikus (Majalah al Mana'ah ad Dawa'iyah, edisi tahun 2000, no. 11)

Dan tentunya banyak penelitian lain yang telah dilakukan dan tidak bisa disebutkan satu persatu pada tulisan ini.

Sementara itu dalam proses produksinya, habbatussauda yang digiling akan menjadi serbuk yang lengket dan berminyak. Semakin tinggi kualitasnya maka semakin banyak minyaknya. Kalau tidak lengket berarti kandungan minyak dalam serbuk sedikit dan itu menunjukkan habbtussauda yang kurang kualitasnya. Biasanya jinten hitam yang berasal dari Afrika Utara lebih baik kualitasnya dibandingkan yang berasal dari lokal karena memiliki kandungan minyak lebih banyak.

Jika kemudian serbuk habbatussauda yang berminyak bila diekstraksi dalam suhu tinggi (diatas 60 derajat Celcius) akan menyebabkan minyak habbat-nya menguap, padahal zat aktif yang berkhasiat terdapat dalam minyak tersebut. Sehingga kemudia metode ekstraksi cold pressing akan menghasilkan ekstrak yang lebih baik dan optimal (Nurkosim, 2009)

Sumber Bacaan :

Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu 'alaiHi wa sallam. Ibnu Qayyim al Jauziyah. Griya Ilmu. Jakarta. Januari 2007.

Rahasia Habbatussauda Sunnah dalam Formulasi Herbal. Nurkosim. Simbiosa Rekatama Media. Bandung. Mei 2009.

Shahih Thibbun Nabawi. Aiman bin Abduh bin Abdul Fatah. Pustaka Imam Ahmad. Jakarta. 2010.

Traditional Chinese Medicine. Irwan Hendrata Widjaja & Effendy. Inormec. Surabaya.

Semoga Bermanfaat
Budi Aribowo